Oleh: Ipung Untoro, M.Pd.B.I.

Mengupload: 1347113 dari 1347113 byte diupload.Indonesia perlu fondasi yang kuat dalam sistem pendidikan dan fondasi itu tentu dibangun dari pendidikan dasar, bahkan sebelum dasar. Kalau mau mundur lagi sampai ke gizinya, dari mulai dalam kandungan bahkan. Tetapi situasi itu masih menjadi tantangan di Indonesia.

Dari hasil PISA yang terakhir di 2022, isu kita masih sama, literasi dan numerasi rendah, padahal itu adalah modal untuk belajar. Kenapa PISA tes internasional fokusnya pada literasi dan numerasi? Karena itu adalah fondasi untuk belajar segala hal.Seperti kita ketahui Pisa terfokus mengukur pada siswa pada usia 15 tahun, namun sepertinya hasilnya tidak akan begitu jauh tatarannya jika kita analogikan pada siswa Fase E dan Fase F kemampuan literasinya.

Karena itu adalah modal untuk belajar sepanjang hayat. Di Indonesia isu masih di sekitar itu. Indonesia sangat rendah, hanya sekitar 25% saja anak-anak 15 tahun yang bisa mencapai standar minimum untuk literasi dan numerasi, itu bahkan lebih rendah lagi angkanya.

Hali ini menjadi isu yang sangat penting sebab ini merupakan modal belajar. Literasi itu selain memberikan kemungkinan untuk orang belajar, PISA juga mengukur seberapa kita mau belajar. Jadi kalau mampu dan mau belajar sepanjang hayat, itu ada kemampuan dari literasi. Kemauan ini juga ditunjukkan dengan seberapa yakin anak-anak Indonesia mau belajar terus sepanjang hayat, growth mindset. Jadi salah satu yang dipelajari atau yang disurvey di dalam PISA itu adalah kemampuan growth mindset, kemampuan percaya bahwa kalau saya belajar, saya akan bisa lebih baik. Kemampuan bahwa kalau saya belajar, saya bisa buat perubahan.

Anak-anak Indonesia relatif rendah dalam hal ini. Isunya adalah karena belajar itu adalah untuk lulus, untuk naik kelas bukan untuk penasaran sama ilmu pengetahuan. Bukan karena curiosity untuk bagaimana supaya saya bisa menyelesaikan masalah-masalah yang semakin kompleks. Bagaimana untuk menjadi pelajar sepanjang hayat, cinta ilmu pengetahuan, dan tidak gampang bosen dengan proses belajar.

Ini akan memakan waktu yang cukup lama, karena cukup struktural. Struktural dalam arti kita tidak melihat adanya budaya yang mengharuskan anak-anak kita di rumah tangga, di kantor, di sekolah, di institusi sosial, dimanapun untuk berdiskusi atau menunjukkan curiosity. Yang mana seringkali saya mengucapkan bahwa kita gak punya political culture untuk mendorong curiosity di kalangan anak-anak kita.

Nah, untuk kepentingan kita untuk bisa menggairahkan curiosity atau unsur penasaran, Jadi memang betul perubahannya harus sistemik. Jika memandang mengenai kurikulum, tiba-tiba kurikulum berubah, di Kurikulum Merdeka misalnya, memberikan banyak keleluasan untuk guru karena filosofinya bergeser. Dari yang distrust, merasa bahwa gurunya tidak mampu kalau tidak dipandu satu persatu. Berubah menjadi bahwa guru adalah instructional leaders dalam kelas yang harus bisa. Padahal jika RPP ngawur sama saja murid menjadi korban.

Pertanyaan yang lebih mendasar lebih filosofis lagi, sebenarnya pendidikan di level tinggi, pendidikan tingkat lanjut itu untuk mencetak apa? Oh, nanti jurusan B tidak dapat pekerjaan, jurusan A dapat langsung kerja misalnya, berarti kita membayangkan pendidikan tingkat lanjut sebagai batu loncatan saja untuk bekerja. Artinya yang kita ingin cetak adalah pekerja.

Fundamentally, kita perlu mempertanyakan pendidikan itu secara filosofis di Indonesia untuk apa? Proporsi untuk mencetak pekerja atau lebih mendasar tentang membentuk individu-individu yang bisa mengembangkan potensinya dengan maksimal? (Unt)

 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama